Senin, 13 Oktober 2014

REVIEW JURNAL MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI, KEMANDIRIAN, DAN PENYESUAIAN DIRI KARYAWAN



IDENTITAS
Jurnal yang berjudul Meningkatkan Motivasi Berprestasi, Kemandirian, Dan Penyesuaian Diri Karyawan dibuat oleh bapak Siswono Legowo pada tahun 2012 dengan mengambil refrensi dari Bailey, R.W. (1982), Baskorowati Indah. (1987), Calvin, S. Hall & Gurner, Linzey. (1993), Coleman. (1995), Kustartini. (1971), Miftah Thoha. (1983), Mulyani, M. (1982), Munawir Yusuf. (1999), Salovey & Mayor. (1990), Sawaf, Ayman. (1999), dan Sudita. (1989)

LATAR BELAKANG
Kepribadian menurut Allport dalam Calvin & Gurner (1993) adalah sesuatu dan berbuat sesuatu artinya kepribadian dalam apa yang ada dibalik perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu. Dalam hal ini perbuatan seseorang akan selalu mencerminkan kepribadian seseorang karena kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistemsistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungan. Adapun beberapa ahli meninjau kepribadian itu self atau aku atau yang memberikan keunikan kepada perilaku seseorang sehingga dapat dinyatakan pula otonomi dari kepribadian seseorang. Adapun aspek-aspek kepribadian yang akan melatarbelakangi perilaku individu tersebut antara lain motivasi untuk berprestasi, kemandirian, penyesuaian diri, serta kecerdasan emosinya. Kualitas organik tingkah laku manusia tidak dapat dilepaskan antara satu bagian tingkah laku dengan semua bagian dalam pribadi yang berfungsi. Untuk memahami tingkah laku, individu perlu memahami secara umum, faktor-faktor lingkungan dan secara khusus daya-daya lingkungan.

Ciri khusus motivasi yang dibahas secara rinci ditekankan pada koeksistensi yang menjalin secara fungsional, yang mengiringi proses psikologis yang berorientasi pada otak sebagai locus atau pusat kepribadian manusia dan semua bagiannya. Kepribadian berfungsi mengarahkan dalam diri individu mengintegrasikan konflik-konflik dan rintangan-rintanganyang dihadapi individu, memuaskan kebutuhan individu dan menyusun rencana untuk masa depan. Atas dasar inilah dinyatakan bahwa hakikat kepribadian yang abstrak atau konseptual dan proses pikologis mendasari proses-proses psikologis.
Sesungguhnya imajinasi yang kreatif, merupakan aspek kepribadian paling kuat meskipun jarang diberi kesempatan untuk berkembang. Bagi karyawan yang memiliki imajinasi kreatif akan memudahkan dirinya berinteraksi, menyesuaikan diri terhadap objek maupun subjek dalam pelaksanaan tugasnya. Tingkah laku seseorang memiliki unsur-unsur tingkah laku. Manusia dipandang dari segi faktor-faktor penentu atau yang melatarbelakanginya di mana motivasi merupakan faktor yang penting dalam upaya seseorang memenuhi kebutuhannya.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini diadakan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif korelasional dan terdapat tiga variabel bebas, yaitu motivasi berprestasi, kemandirian, penyesuaian diri, dan data tersebut diperoleh melalui angket, sedangkan variabel terikat, yaitu prestasi kerja. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) ingin megetahui gambaran profil beberapa aspek kepribadian (motivasi berprestasi, kemandirian dan penyesuaian diri serta prestasi kerja) Karyawan Universitas Sebelas Maret Surakarta; (2) ingin mengetahui hubungan masing-masing variabel berbas meliputi motivasi berprestasi, kemandirian dan penyesuaian diri dengan variabel terikat, yaitu prestasi kerja. Populasi penelitian ini adalah karyawan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang berpendidikan sarjana dan termasuk eselon III dan eselon IV yang bekerja sebagai administrasi pada tahun akademik 1999-2000, yang berjumlah 43 orang. Dua orang tidak mengikuti karena mengundurkan diri serta 2 orang tidak memenuhi persyaratan untuk dijadikan subjek penelitian, sehingga populasi berjumlah 39 karyawan dijadikan/diambil sebagai subjek penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini adalah studi populasi.
Sumber data dalam penelitian ini adalah karyawan esolon III dan IV Universitas
Sebelas Maret Surakarta. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: untuk variabel bebas meliputi motivasi berprestasi, kemandirian dan penyesuaian diri, dengan menggunakan angket skala kecenderungan kepribadian diri. Untuk variabel terikat, yaitu prestasi kerja digunakan data diskriptif dari skor prestasi kerja masing-masing karyawan dengan menggunakan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Pegawai Negeri Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta, 1998-1999. Analisis data dalam penelitian ini digunakan teknik statistik diskriptif korelasional. Untuk memberikan gambaran tentang kondisi kepribadian karyawan digunakan teknik statistik diskriptif, sedang untuk mengetahui apakah ada hubungan masingmasing variabel bebas terhadap variabel terikat dan seberapa besar hubungannya masing-masing variabel digunakan teknik statistik korelasi Pearson, dengan menggunakan komputer SPSSRelease 6.
Berdasarkan hasil analisis data-data diperoleh kondisi riil karyawan baik kelemahan maupun kekurangannya baik yang berkaitan dengan motif berprestasi, kemandirian dan penyesuaian diri serta prestasi kerja karyawan. Dengan demikian dapat dilakukan tindak lanjut sehingga berdampak pula pada meningkatnya kinerja serta prestasi kerja para karyawan sesuai dengan tujuan universitas. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan melalui pendidikan formal kejenjang yang lebih tinggi atau sesuai dengan tuntutan bidang pekerjaan di mana karyawan tersebut ditugaskan dan atau mengikuti pendidikan nonformal, yaitu short program, pelatihan sesuai dengan bidang pekerjaan karyawan yang ditugaskan.

ANALISIS DESKRIPTIF
Seperti telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, dalam penelitian ini ditemukan dua bagian pokok, yaitu: (1) diskripsi data; dan (2) hasil analisis data. Diskripsi data meliputi hasil pengukuran terhadap variabel-variabel berikut: autonomy (kemandirian) (A), motivasi berprestasi (B), penyesuaian diri (PD), dan prestasi kerja (PK) yang dimiliki staf administrasi UNS tahun akademik 1999/2000. Hasil analisis data meliputi: analisis korelasi antarvariabel tersebut. Hasil analisis diskriptif terhadap variabel motivasi berprestasi para staf administrasi UNS periode 1999/ 2000 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.


Berdasarkan data Tabel 1 tersebut diperoleh ukuran tendensi sentral ( mean , median , maupun trimmed mean ) antara 17 sampai dengan 17,846. Atau dapat dikatakan bahwa 50% subjek yang dikaji memiliki skor motivasi berprestasi berada pada kisaran 16 hingga 20, dengan standar penyimpangan (deviasi) skor dari tendensi sentral adalah 2,987.
Jika rerata skor motivasi berprestasi mereka tersebut dikonsultasikan pada skor standar SPPS, maka skornya 14,96-18,30. Ini berarti bahwa motivasi berprestasi mereka termasuk pada klasifikasi cukup.
Hasil analisis diskriptif terhadap variabel autonomy/kemandirian para staf administrasi UNS periode 1999/2000 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.


 Berdasarkan data tersebut diperoleh ukuran tendensi sentral ( mean, median, maupun trimed mean ) adalah 9. Atau dapat dikatakan bahwa subyek yang dikaji memiliki skor autonomy/kemandirian berentang antara 2 - 17, dan 50% di antara mereka memiliki skor autonomy/kemandirian pada kisaran antara skor 6 hingga 11, dan dengan standar penyimpangan (deviasi) skor dari tendensi sentral adalah 3,317.
Bila rerata skor autonomy/kemandirian para staf administrasi UNS tersebut dikonsultasikan pada skor standar EPPS, maka berada pada rentang skor 6,634-9,79. Ini berarti bahwa autonomy/kemandirian mereka rata-rata termasuk kategori cukup.
Hasil analisis diskriptif terhadap variabel penyesuaian diri para staf administrasi UNS periode 1999/2000 dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.


Berdasarkan data Tabel 3 tersebut diperoleh ukuran tendensi sentral ( mean, median, maupun trimed mean) antara 12,69 sampai dengan 13. Atau dapat dikatakan bahwa subyek yang dikaji tersebut memiliki skor penyesuaian diri berentang antara 6 - 18; dan 50% di antara mereka memiliki skor yang berkisar antara skor 10 hingga 18 dengan standar penyimpangan (deviasi) skor dari tendensi sentral adalah 2,637.
Jika rerata skor penyesuaian diri para stat administrasiUNStersebut dikonsultasikan
pada skor standar SPPS maka berada pada rentang skor 10,54-14,17. Ini berarti bahwa penyesuaian diri mereka rata-rata termasuk pada tingkatan kurang. Hasil analisis diskriptif terhadap variabel motivasi berprestasi para staf administrasi UNS periodde 1999/ 2000 dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.


Berdasarkan data Tabel 4 tersebut diperoleh skor tendensi sentral prestasi kerja ( mean, median, maupun trimed mean ) adalah antara 87,231 sampaidengan 88 - 93. Atau dapat berprestasi dan prestasi kerja yang dikatakan bahwa skor prestasi kerja dimiliki para staf administrasi UNS yang berentang mulai 82 - 50% subjek dengan koefisien korelasi r =0,215 atau memiliki skor prestasi kerja antara 84-90, dan dengan standar penyimpangan (deviasi) dari tendensi sentral adalah 3,207.
Jika rerata skor prestasi kerja para staf administrasi UNS tersebut dikonsultasikan pada klarifikasi yang ditetapkan, maka berada pada rentang skor 82 - 88. ini berarti bahwa prestasi kerja mereka rata-rata termasuk kategori cukup. Memperhatikan hasil analisis deskriptif terhadap empat variabel yang dikaji dapat dibuat kesimpulan umum bahwa karakteristik kepribadian mereka (motivasi berprestasi, kemandirian, penyesuaian diri, dan prestasi kerja) termasuk pada kategori umum. Kesimpulan ini dapat dikatakan dipercaya karena alasan bahwa skor mereka terhadap empat variabel tersebut tidak ekstrem (outlers). Data ini ditunjukkan oleh tidak adanya perbedaan antara besarnya skor setiap mean variabel dan trimed mean (mean yang telah dihaluskan) dengan meniadakan 55 data ekstrem terbesar dan 5% data ekstrim terkecil.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Motivasi berprestasi merupakan karakteristik kepribadian yang cukup penting bagi semua staf. Karena motivasi berprestasi yang tinggi akan teraktualisasi dalam unjuk kerja yang optimal, demikian pula sebaliknya. Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar ataupun prestasi bekerja.
Demikian halnya autonomy adalah salah satu karakteristik kepribadian yang diperlukan bagi seorang staf khususnya pada level pimpinan. Jika diperhatikan autonomy/kemandirian yang dimiliki oleh para staf UNS ada pada kategori cukup. Ini berarti umumnya para staf UNS memiliki tingkat kemandirian yang cukup.
Variabel ketiga dari karateristik kepribadian dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri. Penyesuaian diri sangat dipentingkan bagi setiap individu yang dalam kehidupan kerjanya banyak berhubungan dengan orang lain. Untuk itu faktor ini sangat penting bagi seorang staf UNS, karena mereka dalam bekerja hampir selalu berhubungan dengan yang lain apakah itu hubungan struktural (dengan atasan maupun bawahan) atau horisontal dan konsultatif (hubungan antarlevel struktur yang sederajat atau dengan pihak lain). Jika diperhatikan kemampuan rata-rata penyesuaian diri para staf UNS menunjukkan pada kategori kurang. Ini berarti bahwa penyesuaian diri para karyawan UNS kurang. Hal ini dimungkinkan karena iklim kerja yang dipengaruhi oleh pola kepemimpinan serta budaya sehingga kurang kondisi yang menunjang hubungan timbal balik antara sesama dan antara pimpinan dan bawahan yang akibatnya memberikan penyesuaian diri yang kurang lentur dan kurang terbuka, objektif.
Terakhir, variabel prestasi kerja. Prestasi kerja staf UNS merupakan aktualisasi potensi kepribadian yang mereka miliki dalam merespon setiap tugas atau proses berinterakasi mereka dengan lingkungan dimana mereka bekerja. Kemampuan atau prestasi kerja dipengaruhi oleh banyak variabel. Variabel karakteristik pribadi sebagaimana dikaji dalam penelitian ini hanyalah sebagian dari totalitas karakteristik pribadi individu yang menentukan atau memberikan sumbangan terhadap prestasi kerja. Variabel atau faktor-faktor lingkungan kerja baik itu person maupun nonperson, manajemen dan sebagainya dapat pula sebagai fasilitas bagi individu untuk prestasi kerja secara optimal atau sebaliknya. Semakin kondusif/lingkungan kerja akan memacu individu untuk bekerja optimal, sehingga menghasilkan prestasi kerja yang optimal. Ini dapat pula berarti sebaliknya.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menarik ditindaklanjuti. Tindak lanjut penelitian dapat bersifat verifikasi atau replikasi dengan penyempurnaan pada aspek metode penelitiannya atau pada kajian pustaka mutakhir dan relevan. Disisi lain dapat digunakan untuk menentukan pengembangan diri para karyawan dan menemukan hambatan bagi yang bermasalah. Di samping itu berdasarkan hasil analisis data pula diperoleh kondisi riel karyawan, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut untuk meningkatkan kepribadian agar dapat optimal yang berdampak pula pada meningkatnya kinerja serta prestasi kerja para karyawan sesuai dengan tujuan universitas. Peningkatan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan formal ke jenjang lebih tinggi atau sesuai dengan tuntutan bidang pekerjaan di mana karyawan tersebut ditugaskan. Dan, atau mengikuti pendidikan nonformal, yaitu melalui kegiatan short program, pelatihan sesuai dengan tuntutan bidang pekerjaan di mana karyawan ditugaskan/dipekerjakan.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menarik ditindaklanjuti. Tindak lanjut penelitian dapat bersifat verifikasi atau replikasi dengan penyempurnaan pada aspek metode penelitiannya atau pada kajian pustaka mutakhir dan relevan. Disisi lain dapat digunakan untuk menentukan pengembangan diri para karyawan dan menemukan hambatan bagi yang bermasalah.
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka dapat direkomendasikan atau disarankan beberapa hal yang bersifat praktis dan teoretis: (1) kecenderungan kepribadian staf UNS yang meliputi motivasi berprestasi, otonomi/kemandirian dan penyesuaian diri yang berada pada kategori cukup dan masih dapat ditingkatkan melalui berbagai pendekatan, misalnya perbaikan manajemen (TQM) dan pelatihan-pelatihan; (2) berdasarkan analisis korelasional antarvariabel yang hasilnya menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel, maka kesempatan lain dapat dilakukan penelitian ulang (replikasi). Penelitian replikasi yang dimaksudkan adalah dengan memodifikasi metodologi, misalnya: menambah jumlah sampel, memvalidasi instrumen dengan subjek yang representatif. Atau, agar dalam penelitian ini dapat diperoleh informasi lebih mendalam tentang aspekaspek yang dikaji, maka terkait dengan hal ini dapat digunakan pendekatan kualitas.

KETERBATASAN PENELITIAN
            Dalam jurnal penelitian ini belum mengoptimalkan bagaimana karakteristik pada tiap tiap karyawan, menurut saya setiap orang pasti mempunyai karakteristik yang berbeda pula sehingga dalam penyesuaian diri mungkin lebih susah untuk diciptakan, oleh karena itu karakteristik karyawan juga berpengaruh penuh dalam prestasi, kemandirian dan penyesuaian diri dalam bekerja.

KEKUATAN PENELITIAN
            Dalam jurnal penelitian ini kita diajarkan bagaimana bekerja dengan semangat penuh untuk mencapai prestasi, kemandirian dan penyesuaian diri dalam bekerja, jurnal ini lebih bisa memotivasi kita bagaimana menjadi karyawan yang mempunyai nilai jual yang tinggi dan menjadi karyawan yang lebih bisa membanggakan perusahaannya.

RISET SELANJUTNYA
            Riset selanjutnya menurut saya mungkin lebih mengarahkan karyawan terhadap karakteristik yang mereka miliki sehingga karyawan tersebut akan lebih mudah dalam menyesuaikan diri dan lebih termotivasi terhadap pekerjaannya.

 

1 komentar: